Advertisemen
Sudahkah rasa butuh terhadap Al-qur’an
kita tanamkan dalam diri? Seperti butuh terhadap pekerjaan?
Dalam keseharian kita dapati tidak
sedikit orang berjuang mati-matian untuk bekerja. Siang malam banting tulang
bahkan terkadang tidak pulang. Mengapa ini bisa terjadi? Jawabanya, karena
rasah butuh, butuh uang, butuh untuk menghidupi kelurganya. Karena pemahaman
ini yang menjadi para pekerja menjadi semangat bekerja.
Rasa butuh dapat mempengaruhi seseorang
dalam memandang sesuatu. Begitu juga orang yang sudah menanamkan dalam dirinya
rasa butuh kan Al-Qur’an. Dalam pembahasan kali ini kita coba kupas kepada
mereka yang belum merasakan indikasi kurang bergairah mempelajari Al-Qur’an.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Banyak
faktor yang mempengaruhinya, Diantaranya:
Pertama, mungkin menganggap Al-Qur’an
hanya sekedar mengugurkan kewajibannya sebagai umat muslim, karena umat muslim
diwajibkan untuk membaca Al-Qur’an.
Kedua membaca Al-qur’an hanya
membuang-buang waktu dan tidak memberi keuntungan secara materi.
Ketiga, mereka yang kurang menanamkan
butuh Al-qur’an beranggapan bahwa ruang lingkup Al-qur’an hanya di masjid bukan
di tempat kerja.
Apabila pandangan mereka demikian
terhadap Al-Qur’an, maka wajarlah kalau semangat memepelajari dan mendalami
Al-qur’an menjadi redup bahkan mati. Karena tidak ada unsur yang tertanam dalam
diri untuk menjadi kebutuhan/ kepentingan.
Dan untuk diri yang belum tertanamkan
dalam fikirannya rasa butuh terhadap Al-qur’an kecuali merubahnya. Sebab
keadaan itu akan membahayakan bagi keselamatan kita dunia dan akhirat.
Langkah pertama yang bisa ditempuh untuk
menanamkan diri butuh Al-Qur’an yaitu membenahi konsep hidup. Memandang akhirat sebagai kehidupan yang
kekal sedangkan dunia hanya pangkal lalainya diri terhadap urusan agama. Padahal
melalui firman dan Sabda Nabi-Nya
berkali-kali dijelaskan ,dunia hanyalah hidup sementara akhiratlah yang kekal.
Oleh karena itu akhirat harus menjadi prioritas utama, seperti dalam firman
Allah :
وَمَا
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ
يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya kehidupan dunia selain dari main-main dan senda
gurau belaka. Dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka
tidaklah kamu memahaminya?” (Al-An’am :32)
Kedua, mengubah pola pikir bahwa membaca
Al-Qur’an hannya membuang waktu dan tidak mengutungkan. Tetapi Al-Qur’an adalah
pedoman hidup dan mengatur aspek kehidupan duia mulai dari aspek ibadah,
sosial, perekonomian dan lainnya. Kita ambil contoh dibidang perekonomian, maka
di Al-Qur’an tertera bahwa dalam mencari rezeki kita tidak boleh menghalalkan
berbagai cara harus mematuhi batasan halal dan haram
Yang ketiga, meyakini bahwa Al-Quran akan
memberi syafaat bagi orang senatiasa mempelajari, memahami dan mengamalkan
nilai-nilai yang terkandung didalamnya di kehidupan sehari-hari.
Semoga pola pikir yang hendak diterapkan
ini bisa mengubah pandangan kita terhadap Al-Qur’an, sehingga tertanamkan rasa
butuh membaca Al-Qur’an. Butuh untuk membaca, mendalami dan mengamalkan.

Add Comments